Dalam upaya nyata mewujudkan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, dosen Program Studi Teknologi Informasi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Bapak Sadr Lufti Mufreni, S.Kom., M.Sc., telah sukses melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat/Pemberdayaan Masyarakat (PMM). Agenda pengabdian ini diselenggarakan secara sinergis melalui kolaborasi lintas kampus bersama tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Desa Caturharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul.
Program pengabdian kolaboratif ini mengusung tema utama “PMM untuk Penguatan Warisan Budaya Masyarakat”. Fokus utama dari perancangan program ini adalah untuk mendukung pelestarian serta eksistensi nilai-nilai budaya lokal di era modern melalui pendekatan edukatif yang dipadukan dengan strategi pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas setempat.

Rangkaian dan Fokus Kegiatan
Kegiatan pengabdian yang bertempat di kawasan Caturharjo, Pandak, Bantul ini menitikberatkan pada beberapa program kerja strategis, antara lain:
- Pengenalan Potensi Budaya Desa: Menggali kembali nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang tertanam di masyarakat desa.
- Pemetaan Aset Tradisi: Melakukan inventarisasi dan strukturisasi aset tradisi yang potensial dikembangkan sebagai daya tarik sosiokultural.
- Penguatan Literasi Digital: Memberikan edukasi pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana untuk mendokumentasikan, mengarsipkan, serta mempromosikan kekayaan budaya Caturharjo agar dapat dikenal lebih luas.
Dampak dan Keberlanjutan Program
Pelaksanaan kolaborasi lintas institusi ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh perangkat desa dan warga lokal. Melalui integrasi ilmu teknologi informasi dari UNISA Yogyakarta dan pengorganisasian lapangan dari tim KKN UAD, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan dalam menjaga warisan leluhur dari kepunahan.
Langkah taktis ini sekaligus memperkuat peran vital perguruan tinggi dalam menstimulasi pembangunan wilayah berbasis komunitas, di mana teknologi hadir bukan untuk menggerus tradisi, melainkan menjadi pilar pelindung dan penguat kebudayaan daerah di era digital.