Fakultas Sains dan Teknologi: Dorong Diversifikasi Produk UMKM Estu SAE melalui Kopi Rempah dan Pemasaran Digital

Sleman, Yogyakarta – Dari minuman instan daun salam hingga kopi rempah, UMKM Estu SAE di Balecatur, Gamping, Sleman, terus mengembangkan usahanya. Melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) mendampingi Estu SAE dalam mengembangkan produk kopi rempah sekaligus memperkuat proses produksi dan pemasaran digital.

Program yang mengusung tema “Diversifikasi Produk UMKM Estu SAE melalui Pengembangan Kopi Rempah Terstandar dan Penguatan Pemasaran Digital” ini dilaksanakan dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, pada tahun pendanaan 2026.

Tim pelaksana UNISA diketuai Nosa Septiana Anindita, dosen Program Studi Bioteknologi, bersama Tika Ridha Hardiani dan Danur Wijayanto, dosen Program Studi Teknologi Informasi, sebagai anggota. Kegiatan turut melibatkan mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi, yaitu Muhammad Burhan Ismail, Anggi Vinatasya Kilwouw, dan Fuad Fadhlil’ Azhiim. Tim berperan dalam penguatan produksi, standardisasi, pemasaran digital, dokumentasi, serta pelaksanaan teknis kegiatan di lapangan.

UMKM Estu SAE yang dipimpin Nurrohmah Dwi Mahesti telah berdiri sejak 2022 dan dikenal melalui produk minuman instan daun salam serta keripik molring. Estu SAE juga telah memiliki NIB serta sertifikasi BPOM dan Halal untuk produk minuman instan daun salam. Namun, keterbatasan portofolio produk dan jangkauan pemasaran menjadi tantangan yang perlu diatasi untuk mendukung perkembangan usaha.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim PKM UNISA mendorong diversifikasi melalui pengembangan kopi rempah instan. Produk ini diharapkan dapat memperluas segmen konsumen, mulai dari pecinta kopi hingga pasar oleh-oleh dan ritel. Pengembangan kopi rempah tidak hanya berfokus pada penciptaan produk baru, tetapi juga pada pembentukan proses produksi yang lebih terstandar melalui penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) berbasis Good Manufacturing Practices (GMP).

SOP tersebut mencakup standar bahan baku, tahapan produksi, parameter proses, sanitasi peralatan, hingga pencatatan melalui batch record. Untuk mendukung proses produksi, program juga mencakup pengadaan kristalisator berkapasitas sekitar 28 liter dan oven pengering berkapasitas sekitar 20 kilogram per proses. Mitra mendapatkan pelatihan mengenai produksi, pengemasan, pelabelan, pengendalian mutu, serta pencatatan produksi.

Pada aspek pemasaran, pendampingan diarahkan pada penguatan identitas merek Estu SAE dan pemanfaatan media digital. Kegiatan meliputi penyusunan kalender konten, pembuatan materi promosi, copywriting, fotografi produk, katalog, pengelolaan kanal digital, serta pemantauan performa melalui insight. Perluasan pemasaran secara luring juga dilakukan melalui penjajakan kerja sama dengan toko oleh-oleh, ritel, dan reseller.

Ketua tim pelaksana, Nosa Septiana Anindita, menjelaskan bahwa penguatan UMKM tidak cukup dilakukan melalui pemberian peralatan atau penciptaan produk baru.

“Program ini diarahkan untuk membangun kemampuan mitra secara menyeluruh. Produk baru perlu didukung proses produksi yang terstandar, pencatatan yang baik, kemasan yang sesuai, serta strategi pemasaran yang terencana agar dapat berkembang dan dipasarkan secara lebih luas.”

Program dilaksanakan dengan pendekatan participatory empowerment dan siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA). Mitra terlibat aktif mulai dari pemetaan kebutuhan, pelatihan, praktik produksi, penerapan SOP, hingga evaluasi. Pendampingan juga mencakup persiapan pemenuhan legalitas produk diversifikasi, khususnya Halal UMK dan izin edar/PIRT.

Penanggung jawab UMKM Estu SAE, Nurrohmah Dwi Mahesti, menyambut baik pendampingan yang diberikan tim UNISA. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan dan keterampilan baru bagi mitra, mulai dari pengembangan produk hingga persiapan pemasaran.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas pendampingan dan bantuan yang diberikan. Kami memperoleh banyak pengetahuan baru, mulai dari pengembangan produk, penggunaan peralatan, proses produksi, sampai persiapan pemasaran. Semoga produk-produk baru Estu SAE dapat berkembang dan diterima oleh masyarakat,” ujar Nurrohmah.

Melalui program ini, UNISA Yogyakarta berupaya memperkuat UMKM Estu SAE melalui perpaduan pengembangan produk, standardisasi produksi, teknologi, legalitas, branding, dan pemasaran digital. Pendampingan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi Estu SAE untuk mengembangkan usaha secara lebih terstruktur, mandiri, dan berkelanjutan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *